Kamis, 26 Mei 2011

askep urolithiasis





A. KONSEP DASAR
1. DEFINISI UROTILIASIS
 Urolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal. Urolithiasis terjadi bila batu ada di dalam saluran perkemihan. Batu itu sendiri disebut calculi. Pembentukan batu mulai dengan kristal yang terperangkap di suatu tempat sepanjang saluran perkemihan yang tumbuh sebagai pencetus larutan urin. Calculi bervariasi dalam ukuran dan dari fokus mikroskopik sampai beberapa centimeter dalam diameter cukup besar untuk masuk dalam pelvis ginjal. Gejala rasa sakit yang berlebihan pada pinggang, nausea, muntah, demam, hematuria. Urine berwarna keruh seperti teh atau merah. (brunner and suddatrh, 2002: 1460). 
 Urolithiasis adalah : 
• Pembentukan batu (calculus) dalam saluran kemih
• Keadaan penyakit yang berhubungan dengan adanya batu dalam saluran kemih.
 Batu atau kalkuli dibentuk didalam saluran kemih mulai dari ginjal kekandung kemih oleh kristalisasi dari substansi ekskresi didalam urine. Urolithiasis merujik pada adanya batu dalam sitem perkemihan. Sebanyak 60% kandungan batu ginjal terdiri atas kalsium oksalat, asam urat, magnesium, ammonium dan fosfat atau gelembung asam amino. (Asuhan Keperawatan Gangguan Ginjal: 65)

2. ETIOLOGY DAN FAKTOR PREDISPOSISI

a. Hiperkalemia dan hiperkalsuria disebabkan oleh hiperparatiroidisme, asidosis tubulus ginjal, multiple myeloma, serta kelebihan asupan vitamin D, susu, dan alkali
b. Dehidrasi kronis, asupan cairan yang buruk, dan immobilitas
c. Diet tinggi purin dan abnormalitas metabolisme purin (hperumia dan gout)
d. Infeksi kronis dengan urea mengandung bakteri (priteus vulgaris)
e. Sumbatan kronis dimana urine tertahan akibat benda asing dalam saluran kemih
f. Kelebihan absorbs oksalat pada penyakit imflamasi usus dan reseksi atau ileostomi
g. Tinggal didaerah yang beriklim panas dan lembab
(Asuhan Keperawatan Gangguan Ginjal: 65)

3. ANATOMI FISIOLOGI

Gb. System perkemihan
Sistem urinary adalah sistem organ yang memproduksi, menyimpan, dan mengalirkan urin. Pada manusia, sistem ini terdiri dari dua ginjal, dua ureter, kandung kemih, dua otot sphincter, dan uretra.
GINJAL 
 Kedudukan ginjal di belakang dari kavum abdominalis di belakang peritoneum pada kedua sisi vertebra lumbalis iii melekat langsung pada dinding abdomen
 Fungsi ginjal : 
- mengeluarkan zat toksik/ racun
- keseimbangan cairan
- keseimbangan asam basa
- mengeluarkan sisa metabolism (ureum, kreatin dll)
URETER
 Terdiri dari 2 pipa yang masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih
 Lapisan dinding ureter terdiri dari :
- lapisan luar (jaringan ikat/ fibrosa)
- lapisan tengah (otot polos)
 Lapisan dinding ureter terjadi gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang mendorong urine melalui ureter
VESIKA URINARIA
 sebuah kantung dengan otot yang mulus dan berfungsi sebagai penampung air seni yang berubah-ubah jumlahnya karena kandung kemih dapat mengembang dan mengempis
 proses miksi
- distensi kandung kemih (± 250 cc) ® reflek kontraksi dinding kandung kemih ® relaksasi spinkter internus ® relaksasi spinkter eksternus ® pengosongan kandung kemih
- kontraksi kandung kemih dan relaksasai spinkter dihantarakan melalui serabut saraf simpatis
- persarafan vesika urinaria diatur torakolumbal & kranial dari sistem saraf otonom
URETRA
 Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih
 Berfungsi menyalurkan air kemih keluar
dalam anatomi, uretra adalah saluran yang menghubungkan kantung kemih ke lingkungan luar tubuh. Uretra berfungsi sebagai saluran pembuang baik pada sistem kemih atau ekskresi dan sistem seksual. Pada pria, berfungsi juga dalam sistem reproduksi sebagai saluran pengeluaran air mani.
FUNGSI HOMEOSTASIS GINJAL
 Ginjal mengatur pH, konsentrasi ion mineral, dan komposisi air dalam darah.
 Ginjal mempertahankan pH plasma darah pada kisaran 7,4 melalui pertukaran ion hidronium dan hidroksil. Akibatnya, urin yang dihasilkan dapat bersifat asam pada pH 5 atau alkalis pada pH 8.
 Kadar ion natrium dikendalikan melalui sebuah proses homeostasis yang melibatkan aldosteron untuk meningkatkan penyerapan ion natrium pada tubulus konvulasi.
 Kenaikan atau penurunan tekanan osmotik darah karena kelebihan atau kekurangan air akan segera dideteksi oleh hipotalamus yang akan memberi sinyal pada kelenjar pituitari dengan umpan balik negatif. Kelenjar pituitari mensekresi hormon antidiuretik (vasopresin, untuk menekan sekresi air) sehingga terjadi perubahan tingkat absorpsi air pada tubulus ginjal. Akibatnya konsentrasi cairan jaringan akan kembali menjadi 98%.
4. PATOFISIOLOGI DAN WOC
Urolitiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) di traktus urinarius. Batu terbentuk ketika konsentrasi supstansi seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika difisiensi supstrats tertentu. Seperti sitrat yang secaa normal mencegah kristalisasi dalam urine, serta status cairan pasien. Infeksi, stasis urine, serta drainase renal yang lambat dan perubahan metabolic kalsium, hiperparatiroid, malignansi, penyakit granulo matosa (sarkoldosis, tuberculosis), masukan vitamin D berlebih merupakan penyebab dari hiperkalsemia dan mendasari pembentukan batu kalsium. Batu asam urat dapat dijumpai pada penyakit Gout. Batu struvit mengacu pada batu infeksi, terbentuk dalam urine kaya ammonia – alkalin persisten akibat uti kronik. Batu urinarius dapat terjadi pada inflamasi usus atau ileostomi. Batu sistin terjadi pada pasien yang mengalami penurunan efek absorbsi sistin (asam ammonia) turunan. (brunner and suddatrh, 2002: 1461).



5. MANIFESTASI KLINIS
a. Nyeri : pola tergantung pada lokasi sumbatan 
b. Batu ginjal menimbulkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi pelvic ginjal serta uretr paroksimal yang menyebabkan kolik. Nyeri hilang setelah batu keluar. 
Batu ureter yang besar menimbulkan gejala atau sumbatan seperti saat turun ke ureter (kolik uretra). 
Batu kandung kemih menimbulkan gejala yang mirip sistitis.
c. Sumbatan : batu menutup aliran urine akan menimbulkan gejala infeksi saluran kemih : demam dan menggigil. 
d. Gejala gastrointestinal : meliputi mual, muntah, diare. 


6. KOMPLIKASI
a. Obstruksi Ginjal 
b. Perdarahan 
c. Infeksi 
d. Hidronefrosis

7. PENATALAKSANAAN
Tujuan dasar penatalaksanaan adalh untuk menghilangkan batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi. 
- Pengurangan nyeri: tujuan segera dari penananan kolik renal tau ureteraladalah untuk mengurangi sampai penyebabnya dapat dihilangkan, morfin atau meperiden diberikan untuk mencegah syok dan sinkop akibat nyeri yang luar biasa. 
- Pengangkatan batu: pemeriksaan sistoskopik dan paase kateter ureteral kecil untuk menghilangkan batuyang menyebabkan obsrtuksi (jika mungkin), akan segera mengurangi tekanan-belakang pada ginjal dan mengurangi nyeri. 
- Lithotripsy gelombang kejut ekstrakorporeal (ESWL): adalah prosedur noninvansif yang digunakan untuk menghancurkan batu dikalik ginjal. Setelah batu tersebut pecah menjadi bagian yang kecil seperti pasir, sisa-sisa batu tersebut dikeluarkan secara spontan. 
- Pengangkatan bedah: pengangkatn bedah batu ginjal mode terapi utama.
(brunner and suddatrh, 2002: 1462). 


8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Sinar X abdomen (ginjal, ureter, kandung kemih) untuk diagnosis batu ginjal
- Pielogram intravena / pemindaian untuk mengenali kerusakan structural, abnormalitas atau obstruksi karena batu
- Hitung darah lengkap
- Kultur urine
- Urinalisis
9. Farmakologi yang diterapkan
Analgesia untuk meredakan nyeri dan memberi kesempatan batu untuk keluar sendiri. Opioid (injecsi morfin sulfat, petidin hidroklorida)au obat AINS (mis ketorolac dan naproxen) dapat diberikan, bergantung pada intensitas nyeri. Propantelin dapat digunakan untuk mengatasi spasme ureter. Pemberian antibiotic dilakukan apabila terdapat infeksi sal kemih atau pada pengangkatan batu untuk mencegah infeksi sekunder. 
Setelah dikeluarkan, batu ginjal dapat dianalisis dan obat tertentu dapat diresepkan untuk mencegah atau menghambat pembentukan batu berikutnya. Preparat diuretic tiazida akan mengurangi kandungan kalsium dalam urine dengan menurunkan ekskresi kalsium dalam tubulus ginjal. Produksi asam urat dapat dikurangi dengan pemberian alopurinal. Urine yang asam harus dibuat basa dengan preparat sitrat. 
(Chang, Esther, 2009 hal: 239). 











ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
A. PENGKAJIAN 
Pengkajan adalah data dasar utama proses keperawatan yang tujuannya adalah untuk memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan klien yang memungkinkan perawat asuhan keperawatan kepada klien
a. Identitas Pasien
yaitu: mencakup nama, umur, agama, alamat, jenis kelamin, pendidikan, perkerjaan, suku, tanggal masuk, no. MR, identitas keluarga, dll. 
b. Riwayat Kesehatan 
Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya klien mengeluh nyeri pinggang kiri hilang timbul, nyeri muncul dari pinggang sebelah kiri dan menjalar ke depan sampai ke penis. Penyebab nyeri tidak di ketahui.
Riwayat Penyakit Dahulu
Kemungkinan klien sering mengkonsumsi makanan yang kaya vit D, klien suka mengkonsumsi garam meja berlebihan, dan mengkonsumsi berbagai macam makanan atau minuman dibuat dari susu/ produk susu. 
Riwayat Penyakit Keluarga
Dikaji apakah keluarga klien mengalami batu ginjal atau penyakit lainnya. 

c. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang ditemukan pada klien ini adalah sebagai berikut : 
- Tanda-tanda vital (TD, nadi, suhu, pernafasan) normal/tidak
- Keadaan klien biasanya CMC 
1. Rambut : uraikan bentuk rambut seperti hitam, pedek, lurus, alopsia
2. Kulit kepala : kotor/tidak kotor
3. Mata :
Kesimetrisan : simetris ki dan ka
Konjungtiva : anemis/tidak anemis
Sclera : ikterik/ tdk ikterik 
4. Mulut dan gigi
Rongga mulut : kotor/tdk
Lidah : kotor/tdk
5. Dada dan thorak
I : simetris kiri dan kanan 
P: tidak adanya pembengkakan dan nyeri tekan
P: normal/tdk
A: normal/tdk
6. Abdomen 
I : adanya pembesaran pada abdomen bawah bagian belakang
P : akan teraba massa bila keadaan sudah lanjut
P : n: tympani
A: bising usus (+) n: 5-35x/i
7. Genetalia
Observasi adanya lesi, eritema, fisura, leukoplakia. Inspeksi skrotum untuk mengetahui ukuran, warna dan bentuk kesimetrisan
8. Rectum dan anus
I: adanya hemoroid, lesi, kemerahan
P: merasakan adanya massa
9. Kulit/ intagumen
I: amati adanya perubhan dan pengurangan pigmentasi, pucat, kemerahan, sianosis, lesi kulit, ikterik. 

d. Kebutuhan sehari-hari

A. Makan & minum:
Makan : Sehat : 3x sehari, komposisi nasi + lauk, sayur.
Sakit : 3x sehari, hanya menghabiskan setengh porsi.
Minum: sehat : 6-8 gelas sehari, air putih
Sakit : 10-12 gelas sehari, air putih

B. Eliminasi:
BAK: sehat : 5-7x sehari
Sakit : BAK melalui kateter
BAB: Sehat : 1x sehari,konsistensi lembek
Sakit : 4x sehari konsistensi encer

C. Personal hygiene:
Mandi: sehat : 2x sehari pake sabun
Sakit : 1x sehari dibantu di ats tempat tidur

D. Istirahat & Tidur
Tidur siang: sehat : 2-3 jam sehari, tidak ada gangguan
Sakit : 6-7 jam, gelisah
Tidur malam: sehat : 6-8 jam, tidak ada gangguan
Sakit : 7-8 jam, gelisah

e. Data Psikologis
Pada klien dengan urolitiasis biasanya akan cemas dengan kondisinya, apalagi eliminasi urine tidak teratur dan nyeri, akan menimbulkan kecemasan yang meningkat. 
f. Data Social Ekonomi
Meliputi hubungan sosial klien dengan orang lain dan status ekonominya, urolitiasis dapat menyerang siapa saja baik dari golongan ekonomi rendah maupun tinggi 
g. Data Spiritual
Menyangkut kemampuan klien untuk dapat melakukan ibadah dengan baik untuk memenuhi kebutuhan spiritual dan meliputi adanya keyakinan spiritual yang berhubungan dengan penyakitnya.



h. Pemeriksaan Diagnostik

a. Urinalisa : warna : normal kekuning-kuningan, abnormal merah menunjukkan hematuri (kemungkinan obstruksi urine, kalkulus renalis, tumor,kegagalan ginjal). pH : normal 4,6 – 6,8 (rata-rata 6,0), asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat), alkali (meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), Urine 24 jam : Kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukkan Infeksi Saluran Kencing , BUN hasil normal 5 – 20 mg/dl tujuan untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. BUN menjelaskan secara kasar perkiraan Glomerular Filtration Rate. BUN dapat dipengaruhi oleh diet tinggi protein, darah dalam saluran pencernaan status katabolik (cedera, infeksi). Kreatinin serum hasil normal laki-laki 0,85 sampai 15mg/dl perempuan 0,70 sampai 1,25 mg/dl tujuannya untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. Abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis. 
b. Darah lengkap : Hb, Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atau 
polisitemia. 
c. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine. 
d. Foto Rontgen : menunjukkan adanya calculi atau perubahan anatomik pada 
area ginjal dan sepanjang uriter. 
e. IVP : memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter). 
f. Sistoureteroskopi : visualisasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukkan 
batu atau efek ebstruksi.
g. USG Ginjal : untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu. 


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Gangguan nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi ureteral dan trauma jaringan, pembentukan edema, ischemia seluler.
b. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.
c. Gangguan thermoregulasi berhubungan dengan proses infeksi.
d. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan dengan proses penyakit.
e. Resiko tinggi kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan mual / muntah (nausea) dan diuresis obstruksi.
f. Infeksi berhubungan dengan pembentukan batu pada traktus urinarius.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

No Dx Kep Tujuan dan K H Intervensi Rasional
1 Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d Kemungkinan berhubungan dengan:
- Peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi ureteral.
- Trauma jaringan, pembentukan edema, iskhemia seluler.
-Nyeri hilang dengan spasme terkontrol.
- Tampak rileks, mampu beristirahat dengan tepat.
1. Kaji skala nyeri dan lokasi




2. Beri tindakan nyemen seperti pijatan pinggang (relaksasi dan distraksi).

3. Bantu ambulasi sering dan tingkatkan pemasukan cairan.




4. Beri kompres hangat pada punggung


5. Kolaborasi pemberian obat narkotik, reflek spasme dan edema jaringan. 
1. membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus.

2. meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot.
3. hidrasi kuat meningkatkan lewatnya batu dan membantu mencegah pembentukan batu selanjutnya.

4. menghilangkan tegangan otot dan menurunkan refleks spasme.
5. untuk membantu gerakan batu.
2. Perubahan eliminasi urine b.d
-Stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureter.
- Obstruksi mekanik, inflamasi. - Berkemih dengan jumlah yang normal dan biasa.
- Tidak mengalami tanda-tanda obstruksi.

1. Observasi intake dan output cairan serta karakteristik urine.
2. Dorong meningkatkan pemasukan cairan.



3. Periksa urine dan catat adanya keluaran batu.


4. Pertahankan patensi kateter tak menetap.


5. Kolaborasi pemberian obat Asetozolamide, Amonium Klorida, Asam ashorbat.
1. mengetahui fungsi ginjal dan adanya komplikasi.
2. peningkatan hidrasi membilas bakteri, darah, debris, dan membantu lewatnya batu. 
3. penemuan batu menunjukkan identifikasi tipe batu dan pilihan terapi.
4. membantu aliran urine / mencegah retensi dan komplikasi.
5. meningkatkan pH urine untuk menurunkan pembentukan batu asam, menurunkan pembentukan batu fosfat dan mencegah berulangnya pembentukan batu alkalin.
3 Gangguan thermoregulasi berhubungan dengan proses infeksi. - Suhu kembali dalam keadaan normal
- Suhu tubuh 36oC – 37oC.
- Mukosa tidak kering.

1. Observasi tanda-tanda vital.
2. Jauhkan dari baju tebal / selimut tebal.
3. Anjurkan minum sesuai dengan kebutuhan.

1. mengetahui perubahan suhu tubuh
2. dapat meningkatkan suhu tubuh.
3. memenuhi cairan tubuh.
4 Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan.
Tujuan:
Ansietas berkurang.
Kriteria evaluasi:
Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan pengobatan, ekspresi wajah rileks.
1. Beri kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan harapannya.


2. Beri informasi tentang sifat penyakit, tujuan tindakan dan pemeriksaan diagnostic. 1. kemampuan pemecahan masalah pasien ditingkatkan bila lingkungan nyaman dan mendukung untuk diberikan.
2. pengetahuai membantu mengurangi ansietas.

5 Resiko tinggi kekurangan volume cairan dan elektrolit sehubungan dengan mual dan muntah dan diuresis pasca obstruksi.
Tujuan:
Mempertahankan keseimbangan cairan adekuat.
Kriteria evaluasi:
1. TTV stabil, BB normal, nadi perifer normal.
2. Membrane mukosa lembab.
3. Turgor kulit membaik.
1. Obsevasi intake dan output cairan dan eletrolit.

2. Catat adanya muntah dan diare.




3. Tingkatkan pemasukan cairan sampai 3 – 4 liter/hari.

4. Timbang berat badan setiap hari.



5. Kolaborasi pemberian cairan parenteral dan obat antiemetik.
6. Kaji TTV, turgor kulit dan membrane mukosa.
1. membandingkan keluaran actual dan diantisipasi membantu evaluasi adanya kerusakan ginjal.
2. muntah dan diare berhubungan dengan kolik ginjal karena syaraf ganglion seliaka pada kedua ginjal dan lambung.

3. mempertahankan keseimbangan cairan yang dapat membantu batu keluar.
4. peningkatan berat badan yang cepat mungkin berhubungan dengan retensi

5. mempertahankan volume cairan dan menurunkan mual dan muntah.
6. indicator hidrasi / volume cairan.

6 Infeksi berhubungan dengan pembentukan batu pada traktus urinarius.
Tujuan:
Infeksi tidak berlanjut.
Kriteria evaluasi:
Tanda-tanda infeksi berkurang.
1. Observasi tanda-tanda infeksi.

2. Catat karakteristik urine.



3. Gunakan teknik aseptic bila merawat.

4. Tingkatkan cuci tangan pada pasien dan staf yagn terlibat.
1. mengetahui perkembangan pasien.

2. urine keruh dan bau menunjukkan adanya infeksi

3. membatasi introduksi bakteri ke dalam tubuh.

4. menurunkan resiko kontaminasi silang.












DAFTAR PUSTAKA


 Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal bedah.
EGC: Jakarta

 Chang, Ester. 2009. Patofisiologi Aplikasi Pada Praktek Keperawatan. EGC: Jakarta

 http://kidney.niddk.nih.gov/kudiseases/pubs/stonesadults

 National kidney and Urologic Diseases Information Clearing house. Kidney
Stone In Adult. 

 R. Sjamsuhidajat. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC : Jakarta

 Staff Pengajar Bagian Patologi Anatomic Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1990. Patologi. Universitas Indonesia: Jakarta

 Soeparman & Sarwono waspadji. 1999 . Ilmu Penyakit dalam. Gaya Baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar